Mediadepok.id – Polisi terus mendalami kasus porsitusi online yang menjerat dua anak baru gede (ABG) di salah satu apartemen di wilayah Margonda, Depok, Jawa Barat. Terkait kasus ini, penyidik telah menetapkan tiga remaja sebagai tersangka lantaran diduga sebagai muncikari.

Ketiga tersangka itu masing-masing berinisial MPR (19 tahun), AR (17 tahun) dan BS (17 tahun). Sedangkan korbannya yakni AP (16 tahun) dan (ZF 16 tahun). Sejumlah ABG itu diketahui sebagai warga Depok.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, mereka (para pelaku) telah menjerumuskan kedua remaja belia itu ke sejumlah pria hidung belang dengan tarif Rp450 ribu hingga Rp. 1 juta untuk sekali kencan di dalam kamar apartemen.

Dari hasil penyelidikan pun terungkap, MPR menjajakan AP sebanyak 15 kali dan ZF sekitar lima kali kencan. Sedangkan tersangka AR menjajakan AP sebanyak 15 kali dan ZF 15 kali. Kemudian tersangka BS menawarkan AP empat kali dan ZF sebanyak 13 kali. Praktik ini mereka lakukan sejak sekitar tiga pekan lalu.

“Saya antar jemput dia dan dapet bagiannya tergantung dia (korban) sih,” kata MPR dengan wajah tertunduk lesu saat di temui di markas Polres Metro Depok pada Selasa 28 Januari 2020.

Adapun, modus pelaku ialah menjajakan korban dengan cara online di salah satu aplikasi yang dapat diakses melalui smart phone. “Modusnya dijajakan lewat medsos dengan kode open BO.”

Korban dijerat dengan cara berkenalan melalui media sosial. Kedua remaja cantik itu semula dilaporkan hilang dari rumah sejak 2 Januari 2020. Keluarga kemudian melaporkannya ke polisi pada Sabtu 25 Januari 2020. Korban dan tersangka berhasil diamankan pada Minggu malam, 26 Januari 2020.

“Ini kasusnya sama dengan sebelumnya, berawal dari seorang ibu yang melaporkan putrinya hilang sejak 2 Januari 2020. Dari situ kami dalami ternyata ada perbuatan tindak pidana tentang perdagangan orang dimana anak yang hilang tadi dieksploitasi secara ekonomi maupun seksual artinya dijajakan sebagai pekerja seks komersial,” kata Azis.

Lebih lanjut Azis menegaskan, ketiga tersangka dijerat dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak yang ancamannya kurungan penjara 10 tahun dan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang perdagangan manusia, yang ancamannya maksimal 15 tahun.

“Saat ini kasusnya akan terus kami dalami. Bukan tidak mungkin akan ada tersangka lain. Kami juga mengimbau agar para orang tua lebih memperketat pengawasan terhadap putra-putrinya jangan sampai mereka jadi korban.” tutupnya. (Rezki)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here